Tips Ini Agar Pengajuan KPR Lancar Jaya

Memiliki tempat tinggal atau rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat. Namun mesti diakui, harga properti yang cukup mahal dan terus naik setiap tahunnya menjadi tantangan bagi sejumlah kalangan masyarakat untuk memiliki hunian sendiri.

Mengutip riset Lifepal.co.id terhadap data yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI), meskip secara rata-rata persentase kenaikan gaji pegawai tiap tahunnya lebih tinggi dari persentase kenaikan harga rumah, nilai rumah yang berkali-kali lipat dari gaji bulanan pegawai menyebabkan di masa mendatang, tak tertutup kemungkinan jumlah penduduk yang tak memiliki rumah terus bertambah banyak

Menurut data yang dipublikasikan BPS tahun 2019, permintaan akan properti paling banyak datang dari penduduk kelas menengah ke atas. Hal itu tampak dari kesiapan penduduk berpendidikan tinggi maupun dengan status ekonomi sejahtera dalam menabung.

Harga rumah memang tinggi dan akan terus naik. Di masa pandemi ini pun, harga rumah tetap mengalami kenaikan, dan hal itu tercermin dari pergerakan Indeks Harga Properti (IHPR) yang dirilis BI lewat https://rumahimpian.id/landing/.

Terhitung sejak tahun 2017 hingga 2020, kenaikan upah gaji bersih pegawai di Indonesia secara rata-rata mencapai 4,53%. Sementara itu, kenaikan IHPR mengalami pertumbuhan setiap tahunnya rata-rata senilai 3,22%.

Fakta ini menunjukkan bahwa, meski gaji seorang pegawai mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, harga rumah juga mengalami hal yang sama. Lebih lanjut, patut diketahui bahwa harga dasar sebuah rumah bisa mencapai 100 atau bahkan 1.000 kali lipat dari gaji bulanan seorang pegawai.

Karena itu, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) umumnya menjadi solusi bagi pegawai yang ingin memiliki rumah. Namun, tak berarti pula bahwa berapapun penghasilan seseorang, menjadikannya layak untuk mencicil rumah melalui KPR.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai KPR dan siapa saja yang dinilai layak untuk mengajukannya, simak tips yang dihimpun oleh Lifepal berikut ini:

1. Pahami lebih dahulu, apakah Anda “layak mencicil rumah?”
Bank atau lembaga pemberi kredit bisa saja memberikan penilaian skor bagus pada Anda karena ketepatan pembayaran angsuran. Untuk mengetahui apakah Anda layak untuk mencicil rumah adalah dengan mengetahui rasio utang berbanding aset yang Anda miliki.

Nilai rasio utang berbanding aset menunjukkan berapa besar aset milik kita, yang dibiayai utang. Dengan membagi total utang dan total aset kita, maka diperoleh skor rasio ini.

Nilai ideal dari rasio ini adalah di bawah 50%. Jika nilainya lebih dari 50% maka tandanya, nilai utang kita telah melebihi nilai aset dan hal ini jelas menunjukkan ketidaksehatan finansial. Nah jika ini kasusnya, perbaikilah terlebih dulu rasio ini sebelum Anda mengajukan KPR.

2. Jangan berutang jika tak ada dana darurat
Amankanlah terlebih dulu dana darurat Anda. Ketersediaan dana darurat yang ideal adalah 3 hingga 6 kali pengeluaran bulanan. Semakin banyak tanggungan kita atau semakin tinggi risiko pekerjaan kita, maka semakin besar pula kebutuhan dana darurat kita.

3. Investasikan dana Anda untuk uang muka rumah
Ketahui terlebih dulu, kapan Anda akan membeli rumah dan membayar uang mukanya (down payment/DP). Ketahui pula biaya yang akan Anda keluarkan, dan sisihkan uang Anda secara rutin di instrumen investasi.

Jika memang pembelian rumah ditargetkan dalam satu hingga tiga tahun ke depan, maka simpanlah dana tabungan pembelian rumah di instrumen investasi rendah risiko dan memiliki imbal hasil tetap.

Hindari penempatan dana di instrumen tinggi imbal hasil dan tinggi risiko, karena jangka waktu menabung Anda cenderung pendek. Risiko pasar yang terjadi dalam waktu dekat tentu bisa saja mempengaruhi imbal hasil investasi Anda.