Pengertian Korupsi

Pengertian Korupsi

korupsi sebenarnya telah lama ada khususnya semenjak manusia pertama kalinya mengenali tata urus administrasi. Pada umumnya kasus korupsi yang dipublikasi media, sering tindakan korupsi tidak terlepas dari kekuasaan, birokrasi, atau pemerintah. Korupsi kerap dihubungkan pemaknaannya dengan politik. Sekalinya telah digolongkan sebagai perlakuan yang menyalahi hukum, pemahaman korupsi dipisah dari wujud pelanggaran hukum yang lain.

Selainnya mengaitkan korupsi dengan politik, korupsi dihubungkan dengan ekonomi, peraturan khalayak, peraturan internasional, kesejahteraan sosial, dan pembangunan nasional. Demikian luasnya aspek- faktor yang berkaitan dengan korupsi sampai organisasi internasional seperti PPB mempunyai tubuh khusus yang mengawasi korupsi dunia. Dasar atau dasar untuk memberantas dan mengatasi korupsi ialah pahami pemahaman korupsi tersebut. Di bagian ini diulas berkenaan pemahaman korupsi berdasar beberapa definisi umum dan opini beberapa ahli.


Pengertian Korupsi

Kata “korupsi” datang dari bahasa Latin “corruptio” (Fockema Andrea : 1951) atau “corruptus” (Webster Student Dictionary : 1960). Seterusnya disebutkan jika “corruptio” datang dari kata “corrumpere”, satu bahasa Latin yang lebih tua. Dari bahasa Latin itu selanjutnya dikenali istilah “corruption, corrupt” (Inggris), “corruption” (Perancis) dan “corruptie/korruptie” (Belanda). Makna kata korupsi secara harfiah ialah kebusukan, terburukan, kebiadaban, ketakjujuran, bisa disuap, tidak berakhlak, penyelewengan dari kesucian.

Di Malaysia ada ketentuan anti korupsi, digunakan kata “resuah” datang dari bahasa Arab “risywah”, menurut Kamus umum Arab-Indonesia maknanya sama dengan korupsi (Andi Hamzah: 2002). Risywah (suap) secara terminologis memiliki arti pemberian yang diberi seorang ke hakim atau yang lain untuk memenangi kasusnya dengan tidak dibetulkan atau untuk mendapat posisi (al-Misbah al-Munir-al Fayumi, al-Muhalla-Ibnu Hazm).

Semua ulama setuju mengharamkan risywah yang berkaitan dengan pemutusan hukum, bahkan juga tindakan ini terhitung dosa besar. Seperti yang sudah disyaratkan beberapa Nash Qur’aniyah dan Sunnah Nabawiyah yang diantaranya mengatakan: “Mereka itu ialah beberapa orang yang menyukai dengar informasi berbohong, banyak makan yang haram” (QS Al Maidah 42). Imam al-Hasan dan Said bin Jubair menginterpretasikan ‘akkaaluna lissuhti’ dengan risywah.

Jadi risywah (suap menyogok) sama dengan makan barang yang diharamkan oleh Allah SWT . Maka diharamkan cari suap, menyogok dan terima suap. Begitupun perantara di antara penyuap dan yang disuap. Namun jumhur ulama memperkenankan penyuapan yang sudah dilakukan untuk mendapat hak dan menahan kezhaliman seorang. Tetapi orang yang terima suap masih tetap berdosa (Kasyful Qona’ 6/316, Nihayatul Muhtaj 8/243, al-Qurtubi 6/183, Ibnu Abidin 4/304, al-Muhalla 8/118, Matalib Ulin Nuha 6/479).

Istilah korupsi yang sudah diterima dalam koleksi kata bahasa indonesia, ialah “kejahatan, kebusukan, bisa disuap, tidak berakhlak, kebiadaban dan ketakjujuran”(S. Wojowasito-WJS Poerwadarminta: 1978). Pemahaman yang lain, “tindakan yang jelek seperti penggelapan uang, akseptasi uang sogok, dan lain-lain” (WJS Poerwadarminta: 1976).

Seterusnya untuk beberapa pemahaman lain, disebut jika (Muhammad Ali : 1998) :

  1. Korup maknanya busuk, sukai terima uang suap/sogok, menggunakan kekuasaan untuk kebutuhan sendiri dan beberapaya;
  2. Korupsi maknanya tindakan busuk seperti penggelapan uang, akseptasi uang sogok, dan beberapaya; dan
  3. Koruptor maknanya orang yang lakukan korupsi.

Dengan begitu makna kata korupsi ialah suatu hal yang busuk, jahat dan menghancurkan, berdasar realita itu tindakan korupsi tersangkut: suatu hal yang memiliki sifat amoral, karakter dan kondisi yang busuk, tersangkut kedudukan lembaga atau aparat pemerintahan, penyimpangan kekuasaan dalam kedudukan karena pemberian, tersangkut factor ekonomi dan politik dan peletakan keluarga atau kelompok ke kedinasan di bawah kekuasaan kedudukan. Menurut Subekti dan Tjitrosoedibio dalam kamus hukum, yang diartikan korupsi ialah, tindakan nakal, tindak pidana yang bikin rugi keuangan negara (Subekti dan Tjitrosoedibio : 1973).

Seterusnya baharudin Lopa mencuplik opini David M. Chalmers, merinci istilah korupsi dalam beragam sektor, yaitu yang tersangkut permasalahan penyuapan, yang terkait dengan kecurangan di bagian ekonomi, dan yang tersangkut sektor kebutuhan umum. Ini diambil dari pengertian yang mengeluarkan bunyi “financial manipulations and deliction injurious to the economy are often labeled corrupt” (Evi Hartanti: 2008).

Sumber: https://www.seputarpengetahuan.co.id/