sesudah 9 tahun pembelajaran dasar, anak didik menerima lisensi Sekolah Menengah serta menghadiri sekolah menengah sepanjang 3 tahun. tidak cuma sekolah menengah lazim guna perencanaan masuk universitas, sekolah menengah cara, aula bimbingan aktivitas, sekolah medis binatang, gedung edukasi kekuatan Kesehatan, serta separuh sekolah menengah pertanian pula ada.  terlihat pula sekolah , serta sekolah swasta. Di sekolah menengah lazim, anak didik mengambil kurikulum normal sepanjang tahun mula-mula mereka, sesudah itu, anak didik diberi opsi pelang objektif maupun kesusastraan. P tampak akhir tahun ketiga, anak didik meneladan tamparan, serta ‘angkatan laut (AL) Thanawiya’ (lisensi pembelajaran Menengah normal) diserahkan pada anak didik yang tercapai tamparan. Pada tahun pemikiran 1999-2000 kedapatan 439.129 anak laki-laki serta 324.493 anak wanita tertera di pembelajaran menengah. Biaya HomeSchooling

Sistem sekolah menengah sedang menginginkan manajemen yang pas. cukup 21% sekolah yang mempunyai lebih dari 180 anak didik (13% sekolah pedesaan serta 47% sekolah perkotaan), yang yaitu jumlah paling rendah anak didik yang dibutuhkan guna mempunyai sekolah menengah yang cukup yang menawarkan 2 pelang akademik harus. jua cukup 27% sekolah yang menawarkan 2 pelang paralel di kategori 11 serta 12. Penyediaan pembelajaran oleh area swasta pula bukan opsi yang cukup lantaran kendala peraturan yang kelewatan yang halangi pemdanaan swasta. seterusnya penempatan guru pula tidak efektif.  terlihat separuh sekolah yang keistimewaan guru mata pelajaran khusus, sementara itu di sekolah lain barangkali ada kekurangan guru mata pelajaran yang cocok. Sistem pembelajaran pula kekurangan program pengembangan pengajaran handal resmi. tidak cuma itu, bermacam departemen tidak mempunyai koordinasi dalam tentang pengembangan guru. tiap-tiap tahun kurang lebih 15.000 anak didik dengan titel membimbing tercapai dari universitas. Dari 6000-7000 guru itu sebelah besar dipeaktivitaskan di pembelajaran dasar. Biaya HomeSchooling

nilai keikutsertaan agresif guna pembelajaran menengah di Yaman ialah 45,6 persen pada tahun 2005. Rata-rata regional negara-negara Timur Tengah serta Afrika Utara ialah 73,4 persen. Anak wanita bernasib lebih jelek dari anak laki-laki paling utama di wilayah pedesaan. Pada tahun 2006, perbandingan kedatangan bersih sekolah menengah NAR ialah 60,4% guna laki-laki 55,7% guna wanita, dengan jarak 17 angka persentase antara NAR perkotaan serta pedesaan guna laki-laki serta 25,9 angka persentase selisih guna perempuan.[13] Pada bulan Juli 2007 dewan menteri membenarkan Strategi pembelajaran Menengah normal Nasional yang bermaksud guna sediakan pembelajaran menengah berbobot teratas guna persilihan ke pembelajaran teratas serta pasar kekuatan kerja dengan teknik yang seimbang serta irit biaya. Strategi ini bakal bergerak guna kurangi ketidaksetaraan seks serta geografis dalam pendapatan pembelajaran menengah.