Petungkriyono adalah keliru satu kecamatan yang ada di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Yup, kecamatan ini berada di lokasi pegunungan.

Selain itu terhitung Petungkriyono rupanya, pula dikenal bersama dengan kawasan wisata alamnya yang indah. Pertanian di sana pun amat subur, bahkan potensi limbah pertanian terhitung amat berlimpah.

Adanya limbah pertanian ini, nyatanya menurut Camat Petungkriyono Farid Abdul Hakim bahwa pihaknya memanfaatkannya untuk dijadikan bahan pakan ternak domba jenis crossdorper, merino, texel, dan domba droper .

Farid mengatakan, inspirasi awal berternak ialah memandang banyaknya limbah pertanian yang belum terolah bersama dengan baik. Maka berasal dari itu timnya selanjutnya pakai limbah tersebut digunakan untuk pakan domba.

“Hobi saya itu peternakan, memandang limbah pertanian yang begitu banyaknya rasanya itu eman-eman. Sehingga, limbah pertanian itu saya olah bersama dengan baik untuk digunakan pakan ternak,” kata Camat Petungkriyono FaridOleh dikarenakan itu, saya mendirikan farm atau peternakan domba di Desa Tlogopakis. Peternakan domba ini adalah pemberdayaan masyarakat bagaimana mengolah limbah pertanian itu sanggup jadi rupiahnya yang bermanfaat,” lanjutnya.

Kecamatan Petungkriyono ini terhitung 80 % warganya adalah petani-peternak . Jadi, perihal itu jadi inspirasi buatnya untuk menjadikan edufarming atau daerah belajar mengembangkan peternakan.
Menurut Farid, di jaman modern layaknya ini, rencana awal yang diperkuat yaitu tata kelola. Di dunia peternakan ada 4 perihal yang wajib dimengerti yaitu manajemen berkenaan bakalan atau indukan, ke dua itu manajemen berkenaan kandang, sesudah itu berkenaan makan dan yang terakhir adalah manajemen pemasaran.

“Empat perihal itu yang satu kronologis mutlak agar sanggup berlangsung bersama dengan baik. Kemudian, lokasi memilih Petungkriyono dikarenakan secara filosofi petung ini adalah bambu yaitu guyub rukun.” ucapnya.

“Karena negara kita adalah negara agraris, harapannya anak-anak sanggup mengenal dunia argo agar mereka sanggup mengenal sumber energi alam yang ada di Indonesia. Kami terhubung barang siapa orang yang mendambakan belajar di daerah kita silakan, dikarenakan ilmu jikalau disedekahkan bukan menyusut tapi akan lebih makin tambah lagi,” sebut dia.

“Insyaallah nanti jikalau pandemi Covid-19 sudah berlalu, rencana yang sudah kita siapkan ini akan kita gelar. Sehingga adik-adik khususnya di lokasi Pekalongan itu sanggup belajar mengenal peternakan dan pertanian, jadi mereka nanti di jaman depannya sanggup jadi enterpreneur pengusaha yang luar biasa di dunia agro,” harapnya.

Kandang domba yang ia membuat itu diperkirakan sanggup menampung 300 domba.Farid menjelaskan, pihaknya kenakan proses peternakan modern berarti didalam pola ternak modern wajib menyimak desain kandang, pola pemeliharaan, pemilihan pakan, kebersihan kandang hingga pemasaran produk.

“Selain menghemat anggaran, ternak modern terhitung tidak melenyapkan selagi dan tenaga, tidak layaknya ternak tradisional yang wajib mencari rumput untuk pakan utama domba,” jelasnya.

“Untuk pakan domba, saya meracik sendiri berasal dari bahan-bahan limbah pertanian yang ada di desa. Dari pakan tersebut mengahasilkan pakan konsentrat serta pakan fermentasi yang persentase protein, seratnya sanggup menjamin domba terjaga gizi dan kesehatannya,” paparnya.

Dari hasil ternak itu kelanjutannya Farid sanggup membuahkan omzet hingga ratusan juta rupiah. Dia menambahkan, bersama dengan peningkatan pola berasal dari tradisional ke proses ternak modern ini, sanggup mencukupi kebutuhan daging lokal agar kurangi angka ketergantungan impor daging.

“Pemasaran domba itu mudah sekali, dikarenakan di jaman modern saat ini pemasaran bersama dengan lewat sosial media amat mudah. Omzet satu bulan didalam penjualan ini kurang lebih pada Rp 400 juta hingga Rp 600 juta. Kalau bicara berapa ekornya itu relatif dikarenakan setiap domba harganya berbeda-beda. Harga domba sendiri berasal dari Rp 3,5 juta hingga Rp 9 juta,” tutupnya.

By toha