Tradisi memandai besi sudah tersedia sejak zaman dahulu kala. Di desa Cicalengka, Bandung, Jawa Barat, normalitas ini hampir punah gara-gara tak tersedia yang meneruskan.

Seorang pria kelihatan menyeka keringat sambil beristirahat di sebuah daerah memproses kunci besi dan linggis. Dia adalah Runji Hartono (49), seorang pandai besi warga Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Saat bersistirahat, pria yang akrab disapa Runji itu share cerita kepada  mengenai usaha pandai tukang besi yang kini sudah tidak diminati generasi muda.

Menurutnya, generasi muda kini lebih menentukan kerja di pabrik berasal dari terhadap mengikuti jejak orang tuanya menjadi pandai besi. Dia mengaku kewalahan mencukupi keinginan pasar, namun saudara-saudaranya enggan diajak untuk turut mengakibatkan kunci besi dan linggis.

“Saudara-saudara saya sudah tidak berminat untuk saya ajak. Sedangkan ke-2 anak saya seluruhnya adalah perempuan, menjadi ya tidak sanggup mengikuti jejak saya. Bapak saya pernah terhitung tukang pandai besi, memproses palu.

Sebelum mengakses usaha sendiri, Runji pernah menjadi karyawan pandai besi. Dia terhitung pernah menjadi kuli bangunan dan kuli panggul, namun menurutnya pekerjaan yang paling sanggup dinikmati adalah menjadi tukang pandai besi.

Secara produk, di sini tersedia inovasi, namun untuk hadapi persaingan pasar bersama dengan barang-barang ekspor, kami menjadi kesulitan. Seperti gunting, harga di sini kisaran Rp 30 ribu hingga 100 ribu, sedang gunting berasal dari luar hanya belasan ribu saja,” jelasnya.

By toha