Gunung Bromo menyuguhkan panorama alam yang menakjubkan dan menjadi magnet bagi para wisatawan untuk mengejar matahari terbit. Panorama sekitarnya yang membuktikan beberapa puncak bebukitan dan kawah menjadi keindahan alam yang tak bakal terlupakan bagi yang melihatnya. Namun, keindahan selanjutnya tak selalu sanggup dinikmati para pengunjung. Kenapa demikian?

Selama ini, wisata ke Gunung Bromo sempat beberapa kali dibuka dan ditutup karena berbagai faktor. Contohnya saja waktu kasus Covid-19 meningkat, kebijakan pembatasan kegiatan, perayaan Nyepi, ritual warga, atau pun pengaruh kesibukan vulkanik gunung di sekitarnya (seperti Semeru).

Wisatawan Guest Gesang (34 tahun) mengaku memadai kerap berwisata ke Bromo dengan bersepeda dengan teman-temannya. Saat tempat itu ditutup, dia dan tim cuma sanggup capai pintu masuk. Itu pun sudah membuatnya senang untuk memandang keindahan alam dan kesejukan udaranya.

Menurutnya, penutupan Gunung Bromo berdampak baik terhadap perubahan alam di sana, yaitu hawa lebih bersih dan sejuk, serta berbagai tanaman tumbuh lebih subur dan hijau. Namun, pengaruh negatifnya pun dirasakan pula, yaitu para pedagang dan pelaku usaha di sana menjadi sepi, lebih-lebih tutup.

Di waktu kasus Covid-19 melandai, keputusan bagi para pengunjung ke Gunung Bromo juga diperlonggar. Mereka sanggup masuk ke Bromo melalui Pasuruan, naik ke Wonokitri, melalui lautan pasir, selanjutnya pulang melalui Tumpang. Para pelaku usaha di sana pun tampaknya sudah beraktivitas kembali. “Hanya cuaca saat ini tengah tidak menentu. Jadi lebih berhati-hati, lebih-lebih jalanan licin selama menuju dan waktu pulang,” ucap Guest.

Salah satu penyedia alat transportasi untuk para wisatawan, layaknya Bayo Angin Travel, merasakan pengaruh buka-tutupnya kawasan Bromo. Pemilik travel ini, Afif Saib Rifai Harahap mengaku, situasi itu berdampak terhadap kestabilan usahanya. Selain itu, beberapa kali Info ditutupnya Bromo memadai mendadak, agar travel-nya mesti menyesuaikan kembali jadwal perjalanan.

“Bahkan tak jarang mengembalikan payment trip yang sudah dibayarkan oleh customer,” kata Afif kepada Republika. Pada tahun lalu, PPKM diberlakukan memadai panjang, agar dia mesti berjuang agar usahanya selalu bertahan.

Kondisi ini pun dialami Arief Masbuchin (42) sebagai tidak benar satu penyedia alat transportasi bagi pengunjung ke Bromo. Penutupan yang panjang di sana berdampak terhadap pemasukannya sehari-hari. Dia mengatakan, untuk mengatasinya, rekan-rekan sejawatnya berubah menjadi petani atau sopir truk. Kini dengan dikendorkannya ketetapan pemerintah, penghasilan Arief dan teman-temannya membaik. “Meskipun tidak layaknya sebelum akan pandemi.”

Peningkatan kuantitas pengunjung waktu ini pun dirasakan Afif. “Dampak negatifnya, pengunjung padat tak tertanggulangi di kawasan Bromo dengan bromo ijen tour.” Afif berharap, para pengunjung dan masyarakat selalu merawat kelestarian dan keasrian alam sebagaimana adanya.

Tingginya antusiasme wisatawan untuk berlibur ke Bromo juga dirasakan agen travel  Mereka sanggup memboyong sekitar 160 orang untuk akhir pekan dan 50 orang untuk hari biasa. “Sekarang sudah menjadi ramai lagiKasubbag Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Balai Taman Besar Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Sarif Hidayat mengatakan, kawasan Bromo sebenarnya sudah dibuka, meski kapasitas wisatawan baru 75 prosen sesuai kebijakan pemerintah. “Kalau weekend kapasitas 75 prosen itu sanggup full booking, tetapi kecuali weekday pada 60 hingga 70 persen. Kalau dihitung kuantitas kisaran 2.202 pengunjung per hari.

Karena masih pandemi Covid-19, dia mengingatkan para pengunjung untuk selalu taat protokol kesehatan. “Aturan ini juga berlaku bagi pelaku usaha layaknya transportasi, konsumsi, akomodasi. Ini mesti diterapkan ketat dan tertata dengan memperhatikan kriteria health, security, dan safety,” kata Sarif.

 

By toha