Ada Wacana Kenaikan PPN 12 Persen , Ini Tanggapan Pengembang !

Pemerintah mengeluarkan wacana untuk naikan tarif PPN berasal dari 10 prosen menjadi 12 prosen th. depan. Hal ini direspon pengembang belum tepat sebab keadaan perekonomian yang masih berat dan akan tingkatkan buruknya usaha jika belied ini senantiasa diterapkan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengemukakan wacana untuk menaikan pajak bertambahnya nilai (PPN) untuk seluruh produk termasuk produk properti. PPN yang pada mulanya diberlakukan sebesar 10 prosen disebut Sri akan dinaikan menjadi 12 prosen untuk tingkatkan pendapatan pemerintah berasal dari sektor pajak.

Tarif baru PPN ini akan diberlakukan th. 2022 mendatang yang pemilihan kelanjutannya akan ditetapkan terhadap th. ini juga. Pemerintah sendiri akan berpatokann terhadap UU No. 42 Tahun 2009 perihal pajak bertambahnya nilai yang bisa mengubang besaran tarif menjadi paling renda lima prosen dan paling tiniggi 15 persen.

Hal ini pastinya direspon khususnya oleh kalangan pengembang khususnya pemerintah waktu ini masih memberlakukan pembebasan PPN untuk produk properti ready stock seharga maksimal Rp2 miliar dan discount PPN 50 prosen untuk produk seharga maksimal Rp5 miliar. Belied ini sudah terbukti efektif tingkatkan transaksi penjualan dan memudahkan penduduk untuk membeli produk properti sesuai kebutuhannya.

 

Menurut Team Marketing PIK 2 , masih banyaknya rintangan perekonomian khususnya di sektor properti akibat efek pandemi Covid-19, belum saatnya bagi pemerintah untuk menaikan tarif PPN yang tambah akan memberatkan pasar dan berdampak ulang terhadap pelemahan perekonomian nasional.

“Menurut kita wacana kenaikan PPN menjadi 12 prosen itu jangan hingga berlangsung sebab keadaan usaha masih memadai berat. Kita bisa lihat, bermacam kemudahan yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) berkaitan loan to value maupun tren suku bunga yang konsisten menurun apakah efektif? Yang mutlak itu kekuatan beli, mau suku bunga rendah jika tidak ada yang transaksi serupa termasuk bohong apa ulang jika mau disempurnakan bersama dengan kenaikan PPN menjadi 12 persen, impact-nya bisa makin jelek untuk perekonomian,” katanya.

 

Satu perihal yang sanggup dipastikan misalnya keputusan kenaikan PPN ini menjadi diterapkan, menurut Alim bakal memukul seluruh industri properi dan industri turunannya. Harga produk properti sering tergoda oleh industri turunannya ini, selagi harga semen atau besi naik, itu langsung berdampak terhadap harga jual produk properti.

Bila keputusan PPN 12 prosen ini diterapkan, sanggup dibayangkan dampak besar untuk seluruh industri berkaitan properti yang harus menaikan harga ikuti penerapan tarif PPN yang baru. Bukan cuma industri semen atau besi, tapi keramik, genteng, kaca, cat, produk saniter, produk peralatan rumah tangga, dan lainnya yang bakal ikut naik dan ini menjadi dampak domino yang terlalu besar dan terlalu berisiko misalnya diterapkan.

Belum berkata biaya-biaya lain yang menyertai terhadap tiap-tiap transaksi sektor properti seperti pajak-pajak, asuransi, ongkos administrasi, dan sebagainya. Sebagai developer, Alim menyebut belum saatnya untuk menaikan harga dikarenakan keadaan perekonomian yang belum pulih tapi misalnya pemerintah menaikkan PPN kenaikan harga pasti terjadi.

“Pasar yang bakal paling tergoda selamanya segmen menengah dan menengah bawah yang itu pasar paling besar. Daya beli penduduk dipastikan turun bahkan program perumahan subsidi pemerintah termasuk bakal terdampak dikarenakan komponen yang naik harga jual produk properti termasuk pasti naik,” tandasnya.